als - new
cara mengajari anak mandiri

Bagaimanakah Cara Mengajari Anak Mandiri Agar Tidak Terus-menerus Bergantung pada Orangtua?

Mayoritas orang mempunyai keinginan untuk memiliki anak mandiri. Namun, sikap mandiri seorang anak tidaklah terbentuk dengan sendirinya. Orangtua harus bisa memahami dan bisa menerapkan cara mengajari anak mandiri agar dapat memiliki sosok anak yang mandiri.

Agar impian memiliki anak mandiri ini terwujud, ada sejumlah cara mengajari anak mandiri yang bisa dilakukan agar anak terlatih. Kedua orang tua sama-sama memiliki peranan penting untuk membentuk kepribadian mandiri tersebut. Berikut cara-cara untuk mengajarinya:

1. Memberikan Anak Tanggung Jawab

Melatih anak untuk memiliki sebuah tanggung jawab di rumah adalah sebuah langkah kecil yang kelak berdampak besar. Cara mengajari anak mandiri yang pertama dengan cobalah untuk memberikan tugas kecil seperti membereskan mainan setelah selesai bermain atau merapikan kasur sendiri setelah bangun tidur.

Agar anak terbiasa dengan tanggung jawabnya, orangtua bisa membuat anak terbiasa dengan membuat jadwal rutinitas harian. Ajaklah anak untuk merumuskan jadwal harian tersebut, agar anak tak merasa didikte dan semangat untuk melakukan kegiatannya secara mandiri.

2. Membiarkan Anak untuk Menyelesaikan Pekerjaannya Sendiri

Membiarkan anak menyelesaikan sendiri pekerjaan/tanggung jawab yang dibebankan kepadanya merupakan salah satu cara mengajari anak mandiri. Hindarilah untuk ikut campur dengan urusan anak, apalagi sampai terus-menerus membantunya. Sebab, bantuan terus-menerus tak akan membuatnya jadi mandiri.

Seandainya anak mengalami masalah saat mengerjakan tugasnya, jangan terjun untuk membantunya, tapi ajarkanlah cara untuk menyelesaikan masalahnya. Berikan kepada anak ruang untuk mempelajari bagaimana caranya membereskan masalahnya sendiri. Biarkan anak untuk mencoba bereksplorasi dengan masalahnya.

Pada saat seperti ini, hindari terlalu mengawasi gerak-gerik anak, apalagi sampai melarang dan mengontrol hal yang dikerjakannya. Anak tidak akan menjadi sosok mandiri apabila orang tua masih melarang dan mengontrolnya melakukan ini itu saat sedang belajar.

3. Mengizinkan Anak untuk Membuat Keputusannya Sendiri

Biarkanlah anak untuk mulai membuat keputusan sendiri untuk hal-hal kecil yang tengah dialaminya. Contohnya memilih kapan waktunya bermain saat dirinya memiliki tanggung jawab berupa PR. Biarkan anak memilih, ingin mendahulukan bermain atau mengerjakan PR dahulu.

Secara tidak langsung, dengan mengizinkan anak untuk membuat keputusan sendiri, anak telah mempelajari untuk menentukan skala prioritas. Namun, jika pilihan anak benar-benar keliru, cobalah untuk memberi penjelasan mengenai kebaikan dan keburukan yang ada dalam pilihannya.

4. Menghargai Setiap Hal yang Dilakukan dan Diusahakan oleh Anak

Anak masih belum betul-betul rapi saat membereskan tempat tidur atau mainannya yang berantakan? Tidak apa-apa. Hargailah semua usaha yang telah dilakukan anak. Sebab, apresiasi/penghargaan dalam penerapan cara mengajari anak mandiri memegang peranan yang sangat penting.

Apresiasi dapat orangtua berikan melalui beberapa cara, bisa dengan memberikan pujian, pelukan, atau hadiah fisik kepada anak. Ungkapan kebahagiaan dari orangtua kepada anak akan membangkitkan semangat anak untuk mengembangkan sikap mandiri yang ada pada dirinya.

5. Mendampingi Anak Ketika Telah Terjadi Kegagalan

Kegagalan bagi seorang anak yang baru pertama kali mencoba untuk mandiri tentu akan menyakitkan hatinya. Contohnya saja saat anak salah membawa buku pelajaran ke sekolah padahal ia sudah mencoba untuk menyiapkan bukunya sendiri semalam sebelumnya.

Meski kegagalan yang dialami anak kelihatan sederhana, namun orang tua tetap harus memiliki empati. Tetap dengarkan ketika anak ‘curhat’ semua masalahnya hari itu meskipun masalahnya sepele. Jadilah tempat ternyaman dan ramah bagi anak untuk ‘pulang’, berlindung.

Katakanlah kepada anak, kegagalan adalah hal yang normal dan lazim untuk dialami oleh siapapun. Katakan pada anak untuk tidak lelah mencoba, karena dengan terus mencoba, suatu hari anak bisa berubah menjadi sosok yang mandiri.

6. Menghindari untuk Memojokkan Anak saat Melakukan Kesalahan

Dalam dunia orang dewasa, koreksi saat ada kesalahan merupakan hal yang wajar. Namun, saat orangtua menerapkan cara mengajari anak mandiri, koreksi berlebihan bukanlah hal yang tepat. Menjadikan kesalahan anak sebagai masalah besar juga tidak disarankan.

Koreksilah anak secukupnya dan maklumilah jika anak melakukan kesalahan. Apalagi jika kesalahan tersebut dilakukan oleh anak yang baru pertama kali belajar untuk mandiri. Pandulah anak untuk memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat olehnya, bukan malah memarahinya.

Koreksi secukupnya juga berlaku untuk kesalahan yang dilakukan oleh anak yang sudah mandiri. Namun, jika anak sudah mandiri dan tahu cara memperbaiki masalahnya sendiri, biarlah anak menghadapi konsekuensi dari hal yang diperbuat olehnya.

Jika ingin sukses dalam melakukan sesuatu, seseorang haruslah bekerja keras. Begitu juga kesuksesan dalam menerapkan cara mengajari anak mandiri. Orangtua harus bersabar menerapkannya, karena sebuah kebiasaan seperti kemandirian tidak dapat terbentuk dalam waktu yang singkat.

Share this post